0

untuk kesekian kalinya...

untuk kesekian kalinya ...
topeng harus kukenakan ketika undangan pesta tiba..

untuk kesekian kalinya ...
topeng topeng itu tak cocok kukenakan...

untuk kesekian kalinya...
aku memilih topeng yang mereka pilihkan...

untuk kesekian kalinya...
topeng itu menggores wajahku...

untuk kesekian kalinya...
goresan luka itu selalu mengeluarkan darah...

untuk kesekian kalinya...
darah itupun beku...

untuk kesekian kalinya...
topeng pestaku berhias darah beku...

untuk kesekian kalinya...
aku berdansa dengan sukacita...

untuk kesekian kalinya...
mereka menikmati kesakitanku

untuk kesekian kalinya...
aku memyeringai...

untuk kesekian kalinya...
aku pulang membuka topeng...

untuk kesekian kalinya...
kusimpan topeng itu diantara tumpukan kain...

untuk kesekian kalinya...
aku menunggu undangan datang biar bisa kukenakan topeng itu...

untuk kesekian kalinya...
aku tidur memeluk topeng itu.
0

Selamat Malam, Malam!

wahai malam...
anginmu begitu menusuk hingga ketulang. tulang yang kupunya. hanya kupunya. satusatunya yang kupunya.
tiga malam ini kau menyelimutiku dengan angin itu.
dingin yang tak bisa ku tahan. 
sama seperti kecembuaruanku.

oh malam...
tidak kah kau ingin bertanya tentang kecemburuan itu?

ah, ya! kau tak perlu bertanya. kau tak perlu tahu.
dengarkan saja keluhanku.

tadi siang aku bertemu dengan seorang bocah perempuan . umurnya sekitar adikku ketika dia pulang.
sesaat aku teringat masa masa ketika adikku datang. aku menyambutnya dengan riang. dengan tertawa gembira.
sampai ketika dia tumbuh dengan manis dan sehat. ah masa - masa itu. aku merindukannya sekarang.
jika dia masih bersamaku, apa yang akan dia lakukan? pastinya aku takkan menjadi seperti ini. dan lelaki itu tak akan mengubah warna cerahnya menjadi kelam mencekam.
dan ketika dia pulang..... aku lupa apa yang aku rasakan ketika itu.
dan aku terus melupakannya...
melupakan kesenanganku ketika dia hadir..
melupakan kegembiraanku ketika dia tumbuh..
melupakan perasaanku ketika dia pulang...
aku semakin melupakannya 
aku tak ingin melupakannya.
aku merindukannya.

ah, sudahlah...
sudah tiba waktumu untuk berjaga
menjaga kami, membius kami dengan rasa kantuk.
mungkin sesekali kau bisa membawa dia duduk di bulan dan bisa memandangiku, dan aku akan memandangimu dan dia.
hingga esok pagi kecemburuanku akan hilang.
hingga aku tak perlu merasa terpuruk ketika bocah kecil itu sedang berbagi tawa dalam gendongan gadis kecil yang tinggi kurus itu.

selamat malam, malam!


Sabtu, 13 September 2014

untuk kesekian kalinya...

Diposting oleh eNa di 23.46 0 komentar
untuk kesekian kalinya ...
topeng harus kukenakan ketika undangan pesta tiba..

untuk kesekian kalinya ...
topeng topeng itu tak cocok kukenakan...

untuk kesekian kalinya...
aku memilih topeng yang mereka pilihkan...

untuk kesekian kalinya...
topeng itu menggores wajahku...

untuk kesekian kalinya...
goresan luka itu selalu mengeluarkan darah...

untuk kesekian kalinya...
darah itupun beku...

untuk kesekian kalinya...
topeng pestaku berhias darah beku...

untuk kesekian kalinya...
aku berdansa dengan sukacita...

untuk kesekian kalinya...
mereka menikmati kesakitanku

untuk kesekian kalinya...
aku memyeringai...

untuk kesekian kalinya...
aku pulang membuka topeng...

untuk kesekian kalinya...
kusimpan topeng itu diantara tumpukan kain...

untuk kesekian kalinya...
aku menunggu undangan datang biar bisa kukenakan topeng itu...

untuk kesekian kalinya...
aku tidur memeluk topeng itu.

Senin, 08 September 2014

Selamat Malam, Malam!

Diposting oleh eNa di 22.43 0 komentar
wahai malam...
anginmu begitu menusuk hingga ketulang. tulang yang kupunya. hanya kupunya. satusatunya yang kupunya.
tiga malam ini kau menyelimutiku dengan angin itu.
dingin yang tak bisa ku tahan. 
sama seperti kecembuaruanku.

oh malam...
tidak kah kau ingin bertanya tentang kecemburuan itu?

ah, ya! kau tak perlu bertanya. kau tak perlu tahu.
dengarkan saja keluhanku.

tadi siang aku bertemu dengan seorang bocah perempuan . umurnya sekitar adikku ketika dia pulang.
sesaat aku teringat masa masa ketika adikku datang. aku menyambutnya dengan riang. dengan tertawa gembira.
sampai ketika dia tumbuh dengan manis dan sehat. ah masa - masa itu. aku merindukannya sekarang.
jika dia masih bersamaku, apa yang akan dia lakukan? pastinya aku takkan menjadi seperti ini. dan lelaki itu tak akan mengubah warna cerahnya menjadi kelam mencekam.
dan ketika dia pulang..... aku lupa apa yang aku rasakan ketika itu.
dan aku terus melupakannya...
melupakan kesenanganku ketika dia hadir..
melupakan kegembiraanku ketika dia tumbuh..
melupakan perasaanku ketika dia pulang...
aku semakin melupakannya 
aku tak ingin melupakannya.
aku merindukannya.

ah, sudahlah...
sudah tiba waktumu untuk berjaga
menjaga kami, membius kami dengan rasa kantuk.
mungkin sesekali kau bisa membawa dia duduk di bulan dan bisa memandangiku, dan aku akan memandangimu dan dia.
hingga esok pagi kecemburuanku akan hilang.
hingga aku tak perlu merasa terpuruk ketika bocah kecil itu sedang berbagi tawa dalam gendongan gadis kecil yang tinggi kurus itu.

selamat malam, malam!


Back to Top