0

Berakhir

seperti tak pernah berpihak
selalu aku tak pernah mendapatkannya

seperti tak ernah belajar
selalu aku tak pernah berhasil berubah

seperti saat ini
ketika aku mengetahui semuanya
semua yang telah terjadi
lampau silam

tak tahu aku harus menangis bahagia atau menangis menderita
ketika kebenaran itu tiba-tiba mendatangiku

kebenaran?!
aku bingung menghadapinya
sudah terlalu lama kebohongan itu terjadi
dan sekarang pun aku tak sepantasnya mencaci

hanya bisa menyesali dan membodohi dirisendiri

kadang lebih baik kebenaran itu tak ada saja
mungkin rasa kesal ini tak kan pernah ada

kenyataan terlalu pahit
kebenaran terlalu sakit

ini memang sudah bukan masanya lagi,
tetapi
sampai sekarang aku tidak menginginkan masa itu berakhir
aku ingin seterusnya berlanjut meskipun kenyataannya berakhir.

berakhir
berakhir
berakhir
berkahir
berakhir
berakhir
berakhir
berakhir

tak bisa lagi aku mengalaminya dengan cerita dan aktor yg sama

biarkanlah aku menyimpan cerita dulu itu tetap indah
kenyataan yang barusaja menghampiri anggaplah sebatas  intermezzo
biarkanlah aku tetap mengagumi bagaimana sang aktor berlaga
biarkan pula cerita akhirnya tidakberubah
tetap seperti itu
seprti kemarin
seperti 5 menit lalu

cerita yang sudah berakhir dan tidak bisa lagi dilanjutkan.
0

Teman Wanitaku dan Lelakinya

awalnya hanya sebuah rasa penasaran.,
seorang teman wanita semasa SMA sedang bergulat dengan sebuah cerita.,

aku penasaran

aku mencari-cari.,judul apa kiranya yang dia pilih

aku mencari

kumasukan namanya di google

aku menemukannya

aku baca ceritanya.,
ya.....
cerita tentang dia.,lelakinya

aku semakin penasaran

aku cari lagi cerita tentang lelakinya

aku masukan lagi namanya di google

aku menemukannya,
berada pada  cerita yg sama dengan teman wanitaku itu.,.

dengan pelan
aku baca ceritanya.alinea pertama.,aku mengerti perasaan teman wanitaku itu
aku baca alinea kedua, jantungku mulai berdebar
aku baca alinea ke tiga jantungku semakin berdebar
aku baca alinea ke empat jantungku semakin dan semakin berdebar
aku baca alinea ke lima tak sanggup aku tahan sakit di hatiku
aku baca alinea ke enam tak sanggup aku menahan airmata

aku baca..
aku baca..
aku baca.,

sembari menagis menahan sakit akan cerita itu
begitu menyayat

aku alihkan kursorku pada bagian terakhir .,

Tuhan.,
aku mengutuk diriku sendiri
aku mengutuk teman wanitaku
aku mengutuk lelakinya

begitu kejam.,
ketika aku membaca akhir  cerita disertai potret sang lelaki

lelakinya adalah lelakiku ketika itu.
lelakinya telah menghianatinya
lelakiku telah menghianatiku
lelakinya adalah lelakiku.
0

Makan Siang I

ketika itu jam makan siang, aku makan ditempat yang akhir-akhir ini menjadi favoritku.
aku tidak sendirian, ada seorang adik yang menemaniku,
aku memesan nasi goreng telur begitupun dia
aku memesan es teh manis begitupun dia
aku memesan kangkung, tapi dia memesan es teh lagi.,

untuk beberapa saat kami diam.,
aku menunggu dia kembali menyusun kalimat meneruskan cerita yang terpotong

dia bercerita betapa misteriusnya seorang kakak, kakak laki-laki
dia bercerita begitu tajam mata mereka ketika saling bertemu
dia bercerita dengan begitu pelan tapi mata lelahnya begitu bersemangat, 

aku begitu iri
aku begitu cemburu

bukan tentang si kakak
tapi sudah lama aku tidak hidup dalam cerita seperti itu
aku sudah mengundurkan diri
mengambil jalan lain, jalan yang tertuju pada satu rumah yang telah berpenghuni

rumah yang begitu sederhana
rumah yang nyaman
penghuninya pun begitu menyukai rumah itu,
tak sampai hati aku mengusiknya meskipun begitu besar keinginanku hidup didalam rumah yang sederhana itu.

sudahlah.,aku hanya bisa melihat rumah itu dari jauh
mungkin aku akan membangun rumah yang dekat dengan rumah itu
atau mungkin aku tetap melihatnya dari jauh.
0

Pada Tengah Malam

dengan sengaja aku pergi keluar
pada tengah malam

aku berniat akan kuceritakan semuanya itu
pada tengah malam

ku ganti pakaianku, aku bersolek dengan takbiasa
pada tengah malam

terlihat dicermin rangkaian huruf menjadi kata yg kusambung mrnjadi kalimat dengan sangat hati - hati
pada tengah malam

sudah kutunggu
pada tengah malam

hanya seorang teman bertanya "wajahmu begitu berseri..kebahagiaan apa yang datang padamu?"
pada tengah malam

kujawab dengan diam
pada tengah malam

kuhela nafasku
pada tengah malam

kemudian ku balas lagi dengan senyum 46ku
pada tengah malam

aku berbohong, aku menipu, aku berdusta
pada tengah mlam

tapi tak ada yg kutangisi
pada tengah malam

aku hanya menggati topeng lamaku dengan yg baru
pada tegah malam
0

Biarkan Sajalah!

Aku tak pernah menyangka bahwa semuanya akan seperti ini.,
kusut
penuh ranjau tua
penuh jebakan
penuh kebohongan
penuh kepalsuan

tak jelas siapa yang memulai
para penjahat yang ingin menguasai
atau ketertutupan pribumi yang tak ingin diusik

ah.,
tak ada guna aku memikirkannya.,
hanya akan menambah kusut
menambah ranjau
menambah jebakan
menambah kebohongan
menambah kepalsuan

tangisan darahpun tak kan bisa mengubahnya.
biarkan saja begitu
biarkan semua itu memuaskan nafsunya
itupun jika kepuasan nafsu ada batasnya.

biarkan sajalah!

0

Jelaskan !

jantungku berdegup kencang,
sangat kencang.

apakah yag membuatku seperti ini.,
begitu tak nyaman disini
panas
sempit
pengap
gelap

tak ada angin malam
tak ada kipas angin

apa yang sedang terjadi ?
adakah seseorang yang mengerti?
karena tak mungkin aku bertanya pada rumput yang bergoyang ketika angin pun tak datang untuk menengokku.
langitpun terlalu muram untuk kutanyakan.

seseorang, jelaskanlah!
jelaskan bahwa aku terlalu naif
bahwa aku terlalu ankuh
bahwwa aku terlalu mencintai diriku sendiri.

jelaskanlah bahwa aku salah
jelaskan bahwa aku benar-benar salah

jelaskanlalh bahwa aku tidak akan menyesal
meski angin tak kan lagi datang
dan langitpun tak kan pernah sebiru dulu.

jelaskanlah!
0

Baca

sudah lebih dari 24 jam

kolom itu belum aku tutup.,masih sama seperti terakhir memakainya,.
kubaca berulang kali
terus ku baca
berulang lagi ku baca
baca
baca
baca
mencoba mengerti dan memahai maksud dari isi itu.,

dengungan nyamuk mengamuk ditelingaku menemaniku membacanya
memahaminya

apa yang terjadi dengan kolom itu sehingga sulut sekali aku menggesek kursor ke pojok kanan atas dan mengklknya tanpa penyesalan dan rasa bersalah.,

setiap kursor bergerak kearah seharusnya,.aku menghindarkannya dan membuatnya tetap terlihar dan tetap utuh hingga dapat kubaca hingga aku mengerti dan memahaminya.

sudahkah aku mengerti?
sudahkah aku memhaminya?
apa artinya itu semua?
salahkah keputusanku.,?

Tuhan.,
aku tidak mengeti dengan kalimat-kalmat itu,
sampai sekarang aku tak mengerti

tapi mengapa ku mendengarnya berbisik bahwa aku yang tidak mau mengerti?


0

Wahai Kau yang disana !


Wahai kau yang disana,

Namamu seringkali aku dengar, tetapi rupamu tak pernah aku lihat

Wahai kau yang disana,

Seperti apakah rupamu, mengapa namamu selalu dan terlalu sering aku dengar

Wahai kau yang disana,

Ingin sekali aku melihat  rupamu,

Harus bagaimanakah aku?

Harus seperti apakah aku?

Hari kemarin aku melihatmu

Melihat rupa yang namanya sering ku dengar

Rupa yang bersih, rupa yang terlalu nyaman untuk aku hindari dan kututup mata

Wahai kau yang disana, jadikanlah aku  yang halal bagimu!
0

Hai!


Hai!

Apa kabarmu?

Kau tahu aku sangat menyesal, aku terlalu bodoh saat itu. Seharusnya aku bisa mengendalikan fikiranku. 
Tetapi, apalah guna aku menyesalinya sekarang. Kau tak akan pernah kembali. 
Dirimu hanyalah saat itu dan aku menyianyiakannya.

Tetapi, aku tak sepenuhnya menyesal. 
Karena dengan itu aku mengetahui kau begitu menyukai ku.
Saat itu aku begitu gembira. Disetiap pesanmu, disetiap puisi yang kau salin untukku aku benar- bear terbuai. Aku ingin terus merasakannya, hingga aku mengabaikan perasaanmu.
Dan ketika kau pergi,
Aku semakin merasa terpukul, kau pergi karena kesalahpahaman yang kubuat.
Ketika itu kau terus meminta maaf, tapi aku tak pernah membalasnya.
Dan ketika kau benar-benar pergi aku tersadar, aku selalu mencacimu, aku selalu mengis karenamu.

Namun, ketika aku terpuruk aku hanya tersadar bahwa bukan salahmu kau pergi, itu salahku yang lebih dulu menyakitimu. Dan aku semakin terpuruk, tangisanku semakin menjadi bak air hujan yang mengikis perasannku dan membuatnya tak karuan.

Kau tahu aku sangat menyesal.
Aku ingin sekali kau kembali, seperti dulu. Tetapi aku sadar itu tidaklah mungkin. kau mungkin tahu apa yang aku lakukan terhadapmu ketika itu, sehingga kau benar-benar pergi dengan segala sikap manis yang dulu selau kau beri.

Tapi kau tahu betapa sakitnya aku setelah itu?
Melihatmu dengan wanita lain. Wanita yang aku kenal, yang berbeda degan bidadari impianmu.

Kau berlaku kejam ketika itu. Setiap dari kita bertemu, kau selalu alihkan pandanganmu dan bergeser menjauhkan tubuh jagkungmu dariku. 
Tahukah kau itu menyakituku terlalu dalam.

Aku tahu kita tidak akan pernah menjadi seperti dulu.
Aku juga tahu setiap aku mencoba untuk melupakanmu, penyesalan itu selau muncul dengan begitu kuat tanpa bias kubendung.

Dan ketika penyesalan itusemakin kuuat aku juga tahu kalau aku begitu menyukaimu, aku begitu menggilaimu.
0

PILOT

I have nothing to say but you just need to  have fun with this annother mind :)

Rabu, 26 September 2012

Berakhir

Diposting oleh eNa di 22.10 0 komentar
seperti tak pernah berpihak
selalu aku tak pernah mendapatkannya

seperti tak ernah belajar
selalu aku tak pernah berhasil berubah

seperti saat ini
ketika aku mengetahui semuanya
semua yang telah terjadi
lampau silam

tak tahu aku harus menangis bahagia atau menangis menderita
ketika kebenaran itu tiba-tiba mendatangiku

kebenaran?!
aku bingung menghadapinya
sudah terlalu lama kebohongan itu terjadi
dan sekarang pun aku tak sepantasnya mencaci

hanya bisa menyesali dan membodohi dirisendiri

kadang lebih baik kebenaran itu tak ada saja
mungkin rasa kesal ini tak kan pernah ada

kenyataan terlalu pahit
kebenaran terlalu sakit

ini memang sudah bukan masanya lagi,
tetapi
sampai sekarang aku tidak menginginkan masa itu berakhir
aku ingin seterusnya berlanjut meskipun kenyataannya berakhir.

berakhir
berakhir
berakhir
berkahir
berakhir
berakhir
berakhir
berakhir

tak bisa lagi aku mengalaminya dengan cerita dan aktor yg sama

biarkanlah aku menyimpan cerita dulu itu tetap indah
kenyataan yang barusaja menghampiri anggaplah sebatas  intermezzo
biarkanlah aku tetap mengagumi bagaimana sang aktor berlaga
biarkan pula cerita akhirnya tidakberubah
tetap seperti itu
seprti kemarin
seperti 5 menit lalu

cerita yang sudah berakhir dan tidak bisa lagi dilanjutkan.

Teman Wanitaku dan Lelakinya

Diposting oleh eNa di 21.45 0 komentar
awalnya hanya sebuah rasa penasaran.,
seorang teman wanita semasa SMA sedang bergulat dengan sebuah cerita.,

aku penasaran

aku mencari-cari.,judul apa kiranya yang dia pilih

aku mencari

kumasukan namanya di google

aku menemukannya

aku baca ceritanya.,
ya.....
cerita tentang dia.,lelakinya

aku semakin penasaran

aku cari lagi cerita tentang lelakinya

aku masukan lagi namanya di google

aku menemukannya,
berada pada  cerita yg sama dengan teman wanitaku itu.,.

dengan pelan
aku baca ceritanya.alinea pertama.,aku mengerti perasaan teman wanitaku itu
aku baca alinea kedua, jantungku mulai berdebar
aku baca alinea ke tiga jantungku semakin berdebar
aku baca alinea ke empat jantungku semakin dan semakin berdebar
aku baca alinea ke lima tak sanggup aku tahan sakit di hatiku
aku baca alinea ke enam tak sanggup aku menahan airmata

aku baca..
aku baca..
aku baca.,

sembari menagis menahan sakit akan cerita itu
begitu menyayat

aku alihkan kursorku pada bagian terakhir .,

Tuhan.,
aku mengutuk diriku sendiri
aku mengutuk teman wanitaku
aku mengutuk lelakinya

begitu kejam.,
ketika aku membaca akhir  cerita disertai potret sang lelaki

lelakinya adalah lelakiku ketika itu.
lelakinya telah menghianatinya
lelakiku telah menghianatiku
lelakinya adalah lelakiku.

Senin, 24 September 2012

Makan Siang I

Diposting oleh eNa di 18.48 0 komentar
ketika itu jam makan siang, aku makan ditempat yang akhir-akhir ini menjadi favoritku.
aku tidak sendirian, ada seorang adik yang menemaniku,
aku memesan nasi goreng telur begitupun dia
aku memesan es teh manis begitupun dia
aku memesan kangkung, tapi dia memesan es teh lagi.,

untuk beberapa saat kami diam.,
aku menunggu dia kembali menyusun kalimat meneruskan cerita yang terpotong

dia bercerita betapa misteriusnya seorang kakak, kakak laki-laki
dia bercerita begitu tajam mata mereka ketika saling bertemu
dia bercerita dengan begitu pelan tapi mata lelahnya begitu bersemangat, 

aku begitu iri
aku begitu cemburu

bukan tentang si kakak
tapi sudah lama aku tidak hidup dalam cerita seperti itu
aku sudah mengundurkan diri
mengambil jalan lain, jalan yang tertuju pada satu rumah yang telah berpenghuni

rumah yang begitu sederhana
rumah yang nyaman
penghuninya pun begitu menyukai rumah itu,
tak sampai hati aku mengusiknya meskipun begitu besar keinginanku hidup didalam rumah yang sederhana itu.

sudahlah.,aku hanya bisa melihat rumah itu dari jauh
mungkin aku akan membangun rumah yang dekat dengan rumah itu
atau mungkin aku tetap melihatnya dari jauh.

Minggu, 23 September 2012

Pada Tengah Malam

Diposting oleh eNa di 01.35 0 komentar
dengan sengaja aku pergi keluar
pada tengah malam

aku berniat akan kuceritakan semuanya itu
pada tengah malam

ku ganti pakaianku, aku bersolek dengan takbiasa
pada tengah malam

terlihat dicermin rangkaian huruf menjadi kata yg kusambung mrnjadi kalimat dengan sangat hati - hati
pada tengah malam

sudah kutunggu
pada tengah malam

hanya seorang teman bertanya "wajahmu begitu berseri..kebahagiaan apa yang datang padamu?"
pada tengah malam

kujawab dengan diam
pada tengah malam

kuhela nafasku
pada tengah malam

kemudian ku balas lagi dengan senyum 46ku
pada tengah malam

aku berbohong, aku menipu, aku berdusta
pada tengah mlam

tapi tak ada yg kutangisi
pada tengah malam

aku hanya menggati topeng lamaku dengan yg baru
pada tegah malam

Minggu, 16 September 2012

Biarkan Sajalah!

Diposting oleh eNa di 23.45 0 komentar
Aku tak pernah menyangka bahwa semuanya akan seperti ini.,
kusut
penuh ranjau tua
penuh jebakan
penuh kebohongan
penuh kepalsuan

tak jelas siapa yang memulai
para penjahat yang ingin menguasai
atau ketertutupan pribumi yang tak ingin diusik

ah.,
tak ada guna aku memikirkannya.,
hanya akan menambah kusut
menambah ranjau
menambah jebakan
menambah kebohongan
menambah kepalsuan

tangisan darahpun tak kan bisa mengubahnya.
biarkan saja begitu
biarkan semua itu memuaskan nafsunya
itupun jika kepuasan nafsu ada batasnya.

biarkan sajalah!

Sabtu, 15 September 2012

Jelaskan !

Diposting oleh eNa di 01.51 0 komentar
jantungku berdegup kencang,
sangat kencang.

apakah yag membuatku seperti ini.,
begitu tak nyaman disini
panas
sempit
pengap
gelap

tak ada angin malam
tak ada kipas angin

apa yang sedang terjadi ?
adakah seseorang yang mengerti?
karena tak mungkin aku bertanya pada rumput yang bergoyang ketika angin pun tak datang untuk menengokku.
langitpun terlalu muram untuk kutanyakan.

seseorang, jelaskanlah!
jelaskan bahwa aku terlalu naif
bahwa aku terlalu ankuh
bahwwa aku terlalu mencintai diriku sendiri.

jelaskanlah bahwa aku salah
jelaskan bahwa aku benar-benar salah

jelaskanlalh bahwa aku tidak akan menyesal
meski angin tak kan lagi datang
dan langitpun tak kan pernah sebiru dulu.

jelaskanlah!

Baca

Diposting oleh eNa di 01.30 0 komentar
sudah lebih dari 24 jam

kolom itu belum aku tutup.,masih sama seperti terakhir memakainya,.
kubaca berulang kali
terus ku baca
berulang lagi ku baca
baca
baca
baca
mencoba mengerti dan memahai maksud dari isi itu.,

dengungan nyamuk mengamuk ditelingaku menemaniku membacanya
memahaminya

apa yang terjadi dengan kolom itu sehingga sulut sekali aku menggesek kursor ke pojok kanan atas dan mengklknya tanpa penyesalan dan rasa bersalah.,

setiap kursor bergerak kearah seharusnya,.aku menghindarkannya dan membuatnya tetap terlihar dan tetap utuh hingga dapat kubaca hingga aku mengerti dan memahaminya.

sudahkah aku mengerti?
sudahkah aku memhaminya?
apa artinya itu semua?
salahkah keputusanku.,?

Tuhan.,
aku tidak mengeti dengan kalimat-kalmat itu,
sampai sekarang aku tak mengerti

tapi mengapa ku mendengarnya berbisik bahwa aku yang tidak mau mengerti?


Rabu, 12 September 2012

Wahai Kau yang disana !

Diposting oleh eNa di 23.47 0 komentar

Wahai kau yang disana,

Namamu seringkali aku dengar, tetapi rupamu tak pernah aku lihat

Wahai kau yang disana,

Seperti apakah rupamu, mengapa namamu selalu dan terlalu sering aku dengar

Wahai kau yang disana,

Ingin sekali aku melihat  rupamu,

Harus bagaimanakah aku?

Harus seperti apakah aku?

Hari kemarin aku melihatmu

Melihat rupa yang namanya sering ku dengar

Rupa yang bersih, rupa yang terlalu nyaman untuk aku hindari dan kututup mata

Wahai kau yang disana, jadikanlah aku  yang halal bagimu!

Hai!

Diposting oleh eNa di 23.45 0 komentar

Hai!

Apa kabarmu?

Kau tahu aku sangat menyesal, aku terlalu bodoh saat itu. Seharusnya aku bisa mengendalikan fikiranku. 
Tetapi, apalah guna aku menyesalinya sekarang. Kau tak akan pernah kembali. 
Dirimu hanyalah saat itu dan aku menyianyiakannya.

Tetapi, aku tak sepenuhnya menyesal. 
Karena dengan itu aku mengetahui kau begitu menyukai ku.
Saat itu aku begitu gembira. Disetiap pesanmu, disetiap puisi yang kau salin untukku aku benar- bear terbuai. Aku ingin terus merasakannya, hingga aku mengabaikan perasaanmu.
Dan ketika kau pergi,
Aku semakin merasa terpukul, kau pergi karena kesalahpahaman yang kubuat.
Ketika itu kau terus meminta maaf, tapi aku tak pernah membalasnya.
Dan ketika kau benar-benar pergi aku tersadar, aku selalu mencacimu, aku selalu mengis karenamu.

Namun, ketika aku terpuruk aku hanya tersadar bahwa bukan salahmu kau pergi, itu salahku yang lebih dulu menyakitimu. Dan aku semakin terpuruk, tangisanku semakin menjadi bak air hujan yang mengikis perasannku dan membuatnya tak karuan.

Kau tahu aku sangat menyesal.
Aku ingin sekali kau kembali, seperti dulu. Tetapi aku sadar itu tidaklah mungkin. kau mungkin tahu apa yang aku lakukan terhadapmu ketika itu, sehingga kau benar-benar pergi dengan segala sikap manis yang dulu selau kau beri.

Tapi kau tahu betapa sakitnya aku setelah itu?
Melihatmu dengan wanita lain. Wanita yang aku kenal, yang berbeda degan bidadari impianmu.

Kau berlaku kejam ketika itu. Setiap dari kita bertemu, kau selalu alihkan pandanganmu dan bergeser menjauhkan tubuh jagkungmu dariku. 
Tahukah kau itu menyakituku terlalu dalam.

Aku tahu kita tidak akan pernah menjadi seperti dulu.
Aku juga tahu setiap aku mencoba untuk melupakanmu, penyesalan itu selau muncul dengan begitu kuat tanpa bias kubendung.

Dan ketika penyesalan itusemakin kuuat aku juga tahu kalau aku begitu menyukaimu, aku begitu menggilaimu.

PILOT

Diposting oleh eNa di 22.59 0 komentar
I have nothing to say but you just need to  have fun with this annother mind :)
Back to Top