0

Wanita yang Berambut Panjang

Masih ingat dengan cerita wanita berambut panjang?
bagaimana terlenanya dia dengan rambut panjang dari pantulan cermin .,

ya, ketika itu ada seorang lelaki yang datang, katanya lelaki itu menyukai sang wanita. tetapi karena kejadian itu sang lelaki hanya berdiam saja  hanya saja sang wanita yang berlari ke kamarnya, mencari jilbabnya dan kemudian menangisi kebodohannya.

sudah dua jam berlalu...

sang wanita keluar kamarnya, kali ini jilbab dikenakannya berharap sang lelaki masih ada
tetapi ternyata sayangnya dia sudah pergi, tidak ada seorangpun  diruang tamu. Lalu sang wanita berteriak, memanggil ayah, ibu, kakak dan adik.
sekeraskerasnya ia berteriak tak ada satupun yang menyaut. kemudian, ia cari dari ruangan ke ruangan, dan hasilnya pun nihil.

sang wanita tersadar ia sendiri,
ia sendiri di dalam rumahnya yang begitu besar

ia menangis,
ia takut,

dan tiba-tiba ia tersentak,
wajah laki-laki yang datang tadi sepertinya ia kenal

ia menhentikan tangisnya dan mulai memutar memorinya.,
siapakah laki-laki itu? ia begitu tak asing?



Hai Lelaki, datanglah lagi. datangkan kembali memoriku.
aku ingin mengingatmu.
aku ingin mengenalmu..


2

Pagi 08.46

Pagi 05. 22 Aku terbangun, membuka mata
dua orang wanita dikamarku tengah asyik bercerita. Sayangnya aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Aku terbangun oleh tawa mereka.




Pagi 05. 42 aku cari HandPhoneku hanya sekadar 'tuk mengecek notifikasi.




Pagi 06.15 dua orang wanita dimakarku kembali bercerita, kali ini aku dapat masuk dalam obrolan itu.
Tetapi sayang, obrolan mereka sungguh tidak aku mengerti hingga aku memutuskan untuk kembali bersama Lumia kuningku.




Pagi 06.58 salah satu wanita pergi dan meninggalkan satu cangkir coklat panas yang lupa ia minum.
wanita yang satunya masih duduk diatas kasur mencoba mengajakku bercerita. Tetapi kemudian HandPhonenya berbunyi dan dia asyik dengan itu.




Pagi 07.31 wanita itu telah selesai dengan HandPhonenya dan kemudian aku bertanya "obrolan apa yang kalian bicarakan?" dan ia menjawab "tentang pernikahan dan waktu yg diberikan Tuhan untuk mempercayakan seoranf anak pada kami" aku hampir lupa kalau wanita ini sudah menikah dan sedang hamil 2 bulan.




Pagi 08.00 kami masih bergulat dengan topik pernikahan dan anak.




Pagi 08.26 wanita ini beranjak kedapur untuk membuat suatu makanan tetapi kemudian dia menuju kamar mandi dan terdengarlah suaranya yang sedang muntah. Rupanya dia sedang mengalami morning sickness.




Pagi 08.40 tiba tiba hujan turun dengan derasnya. Sangat deras dan juga sangat gelap.
dan wanita tadi masih tetap merasa mual dan berulangkali mengeluarkan muntahannya.
dalam hujan yg deras ini fikiranku terbawa suasana hujan yg dingin dan telingaku mash menangkap suara muntahan wanita itu.
begitu beratnya masa hamil. Begitu beratnya perjuangan seorang wanita untuk menjadi wanita sempurna. Begitu mulianya seorang Ibu. Meski menderita dengan mual yg dirasalan tetap tidak mengeluh dan malah berbalik tersenyum.




Pagi 08.46 aku ketik " Mah, haturnuhun. " kemudian aku klik send.
0

untuk kesekian kalinya...

untuk kesekian kalinya ...
topeng harus kukenakan ketika undangan pesta tiba..

untuk kesekian kalinya ...
topeng topeng itu tak cocok kukenakan...

untuk kesekian kalinya...
aku memilih topeng yang mereka pilihkan...

untuk kesekian kalinya...
topeng itu menggores wajahku...

untuk kesekian kalinya...
goresan luka itu selalu mengeluarkan darah...

untuk kesekian kalinya...
darah itupun beku...

untuk kesekian kalinya...
topeng pestaku berhias darah beku...

untuk kesekian kalinya...
aku berdansa dengan sukacita...

untuk kesekian kalinya...
mereka menikmati kesakitanku

untuk kesekian kalinya...
aku memyeringai...

untuk kesekian kalinya...
aku pulang membuka topeng...

untuk kesekian kalinya...
kusimpan topeng itu diantara tumpukan kain...

untuk kesekian kalinya...
aku menunggu undangan datang biar bisa kukenakan topeng itu...

untuk kesekian kalinya...
aku tidur memeluk topeng itu.
0

Selamat Malam, Malam!

wahai malam...
anginmu begitu menusuk hingga ketulang. tulang yang kupunya. hanya kupunya. satusatunya yang kupunya.
tiga malam ini kau menyelimutiku dengan angin itu.
dingin yang tak bisa ku tahan. 
sama seperti kecembuaruanku.

oh malam...
tidak kah kau ingin bertanya tentang kecemburuan itu?

ah, ya! kau tak perlu bertanya. kau tak perlu tahu.
dengarkan saja keluhanku.

tadi siang aku bertemu dengan seorang bocah perempuan . umurnya sekitar adikku ketika dia pulang.
sesaat aku teringat masa masa ketika adikku datang. aku menyambutnya dengan riang. dengan tertawa gembira.
sampai ketika dia tumbuh dengan manis dan sehat. ah masa - masa itu. aku merindukannya sekarang.
jika dia masih bersamaku, apa yang akan dia lakukan? pastinya aku takkan menjadi seperti ini. dan lelaki itu tak akan mengubah warna cerahnya menjadi kelam mencekam.
dan ketika dia pulang..... aku lupa apa yang aku rasakan ketika itu.
dan aku terus melupakannya...
melupakan kesenanganku ketika dia hadir..
melupakan kegembiraanku ketika dia tumbuh..
melupakan perasaanku ketika dia pulang...
aku semakin melupakannya 
aku tak ingin melupakannya.
aku merindukannya.

ah, sudahlah...
sudah tiba waktumu untuk berjaga
menjaga kami, membius kami dengan rasa kantuk.
mungkin sesekali kau bisa membawa dia duduk di bulan dan bisa memandangiku, dan aku akan memandangimu dan dia.
hingga esok pagi kecemburuanku akan hilang.
hingga aku tak perlu merasa terpuruk ketika bocah kecil itu sedang berbagi tawa dalam gendongan gadis kecil yang tinggi kurus itu.

selamat malam, malam!


Cheers, Vb!

Hey, kamu yang disana!
Yang kedua jempol tangannya sibuk mengetik
Aku sekilas membaca itu, tetapi kemudian aku lewati ketikanmu yang lainnya
Ah, maaf!
Bukannya aku tidak menyukainya, hanya saja jempol kananku terus menarik layar hingga tulisanmu tak terbaca

Tetapi kemudian, jempol kiriku menyentuh fotomu dan masuklah aku dalam duniamu
Tanggal kemarin itu bahagia untukmu bukan?
Tanggal kemarin itu dua puluh tiga tahun lalu pertama kali tangisanmu membuat poros perhatian.
Menjadi alasan untuk kebahagiaan mereka.
Hingga lima tahun lalu kita dipertemmukan.

Dan lima puluh enam bulan sudah kita saling bertukar tawa, bertukar amarah, bertukah kasih hanya air mata yang belum kita tukar.

Hey, kamu yang disana!
Yang matanya sedang mengagumi sosok berbaju belang putih dan biru muda dengan khas nomer 10

Setelah aku masuk duniamu tadi
Aku mencoba membaca arahmu
Mencoba memahami setiap kata yang kau ketik.
Kau tahu aku merasa sedih.
Jantungku berdegup begitu kencangnya,
Ada perasaan sakit seperti seorang yang patah semangat.
Tapi otakku meyakinkan perasaan sakit ini bahwa kamu bukanlah mereka yang semangatnya sedang diperbeutkan kemudian ditendang para pemain sepak bola.

Ataukah kamu memimpikan seorang kiper?
Yang akan menangkapmu ketika mereka menendangmu? Yang rela mempertaruhkan dirinya dan tidak akan pernah membiarkanmu masuk kedalam gawang kekalahan?

Ah! Jikapun begitu, nanti kamu akan dilemparnya lagi ke pemain depan yang kemudian dengan semangat yang menyala akan menendangmu. Lagi.

Aku sok tahu.
Dari awal pertandingan sampai selesai
Aku sok tahu

Oh, hey!
Bagaimana jika aku tawarkan diriku sebagi mereka yang berdiri sipinggir sambil bernyanyi itu?
Aku akan bernyanyi untukmu.
Akan ku kenakan baju dan aksesoris itu
Sebisanya aku datang menghampirimu disaat kamu ada turnamen
Selalu aku ajukan permintaan pada-Nya agar eksekusi penaltimu selalu berhasil.
Baik itu di ajang besar seperti Piala Dunia atau hanya laga latihan saja.

Aku hanya bisa menawarimu itu.
Karenanya, tetaplah hidupkan nyawamu.
ragakan dirimu.
Demi aku.
Demi kamu.
Demi kita.
Lets be friend, forever

Selasa, 09 Desember 2014

Wanita yang Berambut Panjang

Diposting oleh eNa di 14.01 0 komentar
Masih ingat dengan cerita wanita berambut panjang?
bagaimana terlenanya dia dengan rambut panjang dari pantulan cermin .,

ya, ketika itu ada seorang lelaki yang datang, katanya lelaki itu menyukai sang wanita. tetapi karena kejadian itu sang lelaki hanya berdiam saja  hanya saja sang wanita yang berlari ke kamarnya, mencari jilbabnya dan kemudian menangisi kebodohannya.

sudah dua jam berlalu...

sang wanita keluar kamarnya, kali ini jilbab dikenakannya berharap sang lelaki masih ada
tetapi ternyata sayangnya dia sudah pergi, tidak ada seorangpun  diruang tamu. Lalu sang wanita berteriak, memanggil ayah, ibu, kakak dan adik.
sekeraskerasnya ia berteriak tak ada satupun yang menyaut. kemudian, ia cari dari ruangan ke ruangan, dan hasilnya pun nihil.

sang wanita tersadar ia sendiri,
ia sendiri di dalam rumahnya yang begitu besar

ia menangis,
ia takut,

dan tiba-tiba ia tersentak,
wajah laki-laki yang datang tadi sepertinya ia kenal

ia menhentikan tangisnya dan mulai memutar memorinya.,
siapakah laki-laki itu? ia begitu tak asing?



Hai Lelaki, datanglah lagi. datangkan kembali memoriku.
aku ingin mengingatmu.
aku ingin mengenalmu..


Jumat, 28 November 2014

Pagi 08.46

Diposting oleh eNa di 09.27 2 komentar
Pagi 05. 22 Aku terbangun, membuka mata
dua orang wanita dikamarku tengah asyik bercerita. Sayangnya aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Aku terbangun oleh tawa mereka.




Pagi 05. 42 aku cari HandPhoneku hanya sekadar 'tuk mengecek notifikasi.




Pagi 06.15 dua orang wanita dimakarku kembali bercerita, kali ini aku dapat masuk dalam obrolan itu.
Tetapi sayang, obrolan mereka sungguh tidak aku mengerti hingga aku memutuskan untuk kembali bersama Lumia kuningku.




Pagi 06.58 salah satu wanita pergi dan meninggalkan satu cangkir coklat panas yang lupa ia minum.
wanita yang satunya masih duduk diatas kasur mencoba mengajakku bercerita. Tetapi kemudian HandPhonenya berbunyi dan dia asyik dengan itu.




Pagi 07.31 wanita itu telah selesai dengan HandPhonenya dan kemudian aku bertanya "obrolan apa yang kalian bicarakan?" dan ia menjawab "tentang pernikahan dan waktu yg diberikan Tuhan untuk mempercayakan seoranf anak pada kami" aku hampir lupa kalau wanita ini sudah menikah dan sedang hamil 2 bulan.




Pagi 08.00 kami masih bergulat dengan topik pernikahan dan anak.




Pagi 08.26 wanita ini beranjak kedapur untuk membuat suatu makanan tetapi kemudian dia menuju kamar mandi dan terdengarlah suaranya yang sedang muntah. Rupanya dia sedang mengalami morning sickness.




Pagi 08.40 tiba tiba hujan turun dengan derasnya. Sangat deras dan juga sangat gelap.
dan wanita tadi masih tetap merasa mual dan berulangkali mengeluarkan muntahannya.
dalam hujan yg deras ini fikiranku terbawa suasana hujan yg dingin dan telingaku mash menangkap suara muntahan wanita itu.
begitu beratnya masa hamil. Begitu beratnya perjuangan seorang wanita untuk menjadi wanita sempurna. Begitu mulianya seorang Ibu. Meski menderita dengan mual yg dirasalan tetap tidak mengeluh dan malah berbalik tersenyum.




Pagi 08.46 aku ketik " Mah, haturnuhun. " kemudian aku klik send.

Sabtu, 13 September 2014

untuk kesekian kalinya...

Diposting oleh eNa di 23.46 0 komentar
untuk kesekian kalinya ...
topeng harus kukenakan ketika undangan pesta tiba..

untuk kesekian kalinya ...
topeng topeng itu tak cocok kukenakan...

untuk kesekian kalinya...
aku memilih topeng yang mereka pilihkan...

untuk kesekian kalinya...
topeng itu menggores wajahku...

untuk kesekian kalinya...
goresan luka itu selalu mengeluarkan darah...

untuk kesekian kalinya...
darah itupun beku...

untuk kesekian kalinya...
topeng pestaku berhias darah beku...

untuk kesekian kalinya...
aku berdansa dengan sukacita...

untuk kesekian kalinya...
mereka menikmati kesakitanku

untuk kesekian kalinya...
aku memyeringai...

untuk kesekian kalinya...
aku pulang membuka topeng...

untuk kesekian kalinya...
kusimpan topeng itu diantara tumpukan kain...

untuk kesekian kalinya...
aku menunggu undangan datang biar bisa kukenakan topeng itu...

untuk kesekian kalinya...
aku tidur memeluk topeng itu.

Senin, 08 September 2014

Selamat Malam, Malam!

Diposting oleh eNa di 22.43 0 komentar
wahai malam...
anginmu begitu menusuk hingga ketulang. tulang yang kupunya. hanya kupunya. satusatunya yang kupunya.
tiga malam ini kau menyelimutiku dengan angin itu.
dingin yang tak bisa ku tahan. 
sama seperti kecembuaruanku.

oh malam...
tidak kah kau ingin bertanya tentang kecemburuan itu?

ah, ya! kau tak perlu bertanya. kau tak perlu tahu.
dengarkan saja keluhanku.

tadi siang aku bertemu dengan seorang bocah perempuan . umurnya sekitar adikku ketika dia pulang.
sesaat aku teringat masa masa ketika adikku datang. aku menyambutnya dengan riang. dengan tertawa gembira.
sampai ketika dia tumbuh dengan manis dan sehat. ah masa - masa itu. aku merindukannya sekarang.
jika dia masih bersamaku, apa yang akan dia lakukan? pastinya aku takkan menjadi seperti ini. dan lelaki itu tak akan mengubah warna cerahnya menjadi kelam mencekam.
dan ketika dia pulang..... aku lupa apa yang aku rasakan ketika itu.
dan aku terus melupakannya...
melupakan kesenanganku ketika dia hadir..
melupakan kegembiraanku ketika dia tumbuh..
melupakan perasaanku ketika dia pulang...
aku semakin melupakannya 
aku tak ingin melupakannya.
aku merindukannya.

ah, sudahlah...
sudah tiba waktumu untuk berjaga
menjaga kami, membius kami dengan rasa kantuk.
mungkin sesekali kau bisa membawa dia duduk di bulan dan bisa memandangiku, dan aku akan memandangimu dan dia.
hingga esok pagi kecemburuanku akan hilang.
hingga aku tak perlu merasa terpuruk ketika bocah kecil itu sedang berbagi tawa dalam gendongan gadis kecil yang tinggi kurus itu.

selamat malam, malam!


Minggu, 06 Juli 2014

Cheers, Vb!

Diposting oleh eNa di 01.15 1 komentar
Hey, kamu yang disana!
Yang kedua jempol tangannya sibuk mengetik
Aku sekilas membaca itu, tetapi kemudian aku lewati ketikanmu yang lainnya
Ah, maaf!
Bukannya aku tidak menyukainya, hanya saja jempol kananku terus menarik layar hingga tulisanmu tak terbaca

Tetapi kemudian, jempol kiriku menyentuh fotomu dan masuklah aku dalam duniamu
Tanggal kemarin itu bahagia untukmu bukan?
Tanggal kemarin itu dua puluh tiga tahun lalu pertama kali tangisanmu membuat poros perhatian.
Menjadi alasan untuk kebahagiaan mereka.
Hingga lima tahun lalu kita dipertemmukan.

Dan lima puluh enam bulan sudah kita saling bertukar tawa, bertukar amarah, bertukah kasih hanya air mata yang belum kita tukar.

Hey, kamu yang disana!
Yang matanya sedang mengagumi sosok berbaju belang putih dan biru muda dengan khas nomer 10

Setelah aku masuk duniamu tadi
Aku mencoba membaca arahmu
Mencoba memahami setiap kata yang kau ketik.
Kau tahu aku merasa sedih.
Jantungku berdegup begitu kencangnya,
Ada perasaan sakit seperti seorang yang patah semangat.
Tapi otakku meyakinkan perasaan sakit ini bahwa kamu bukanlah mereka yang semangatnya sedang diperbeutkan kemudian ditendang para pemain sepak bola.

Ataukah kamu memimpikan seorang kiper?
Yang akan menangkapmu ketika mereka menendangmu? Yang rela mempertaruhkan dirinya dan tidak akan pernah membiarkanmu masuk kedalam gawang kekalahan?

Ah! Jikapun begitu, nanti kamu akan dilemparnya lagi ke pemain depan yang kemudian dengan semangat yang menyala akan menendangmu. Lagi.

Aku sok tahu.
Dari awal pertandingan sampai selesai
Aku sok tahu

Oh, hey!
Bagaimana jika aku tawarkan diriku sebagi mereka yang berdiri sipinggir sambil bernyanyi itu?
Aku akan bernyanyi untukmu.
Akan ku kenakan baju dan aksesoris itu
Sebisanya aku datang menghampirimu disaat kamu ada turnamen
Selalu aku ajukan permintaan pada-Nya agar eksekusi penaltimu selalu berhasil.
Baik itu di ajang besar seperti Piala Dunia atau hanya laga latihan saja.

Aku hanya bisa menawarimu itu.
Karenanya, tetaplah hidupkan nyawamu.
ragakan dirimu.
Demi aku.
Demi kamu.
Demi kita.
Lets be friend, forever
Back to Top