Tuhan,
yang aku lakukan hanyalah beediam
tapi mengapa airmata ini jatuh sekenanya
inikah yang namanya kalah?
inikah rasanya kalah?
0
Ikhlas
Tuhan,
sampai sekarang aku mencoba ikhlas
ikhlas dengab apa yang aku punya
ikhlas dengan apa yang kau berikan
tak ada yang lebih sulit dibandingkan dengan ikhlas ini
seperti halnya sekarang,
seharusnya aku sudah ikhlas
ketika aku berseru bahwa aku ikhlas
dan ternyata sekarang,
nafsuku lebih menguasai hati dan fikiranku
menangis, itulah yang selalu aku lakukan
menangisi ketidakmampuanku
menangisi keegoisanku
menangisi kesok-anku
meski kadang aku menertawakannya
Tuhan,
ampuni aku, ampuni kelancangan lidahku
ampuni kemunafikan egoku
tetapi aku sungguh sungguh merindukannya, menginfinkannya, memilikinya.
jangan biarkan sesuatu itu menggoyahkan ikhlasku.
atau, berilah aku penyangga agar ikhlasku tidak goyah.
maaf Tuhan,
dan sampai derik ini pun ternyata ikhlasku mash sangatlah tak terlihat.
karena Kau tak perlu diminta,
hanya aku yang serakah.
sampai sekarang aku mencoba ikhlas
ikhlas dengab apa yang aku punya
ikhlas dengan apa yang kau berikan
tak ada yang lebih sulit dibandingkan dengan ikhlas ini
seperti halnya sekarang,
seharusnya aku sudah ikhlas
ketika aku berseru bahwa aku ikhlas
dan ternyata sekarang,
nafsuku lebih menguasai hati dan fikiranku
menangis, itulah yang selalu aku lakukan
menangisi ketidakmampuanku
menangisi keegoisanku
menangisi kesok-anku
meski kadang aku menertawakannya
Tuhan,
ampuni aku, ampuni kelancangan lidahku
ampuni kemunafikan egoku
tetapi aku sungguh sungguh merindukannya, menginfinkannya, memilikinya.
jangan biarkan sesuatu itu menggoyahkan ikhlasku.
atau, berilah aku penyangga agar ikhlasku tidak goyah.
maaf Tuhan,
dan sampai derik ini pun ternyata ikhlasku mash sangatlah tak terlihat.
karena Kau tak perlu diminta,
hanya aku yang serakah.
Wanita Berambut Panjang
vkau tahu, rambutku sekarang panjang. Panjangnya sepinggang, sama seperti rambut wanita yang kita lihat satu minggu yang lalu..
kau masih ingat penampilab wanita itu?
nash sangat segar di ingatanku bagaimana si wanita itu mengikat rambutnya yang panjang dengab menggunakab ikat rambut warna kuning yang sudah lusuh.
rambutnya agak sedikit kusut, tapi aku sungguh sangat menyukai rambutnya. Wanita itu terlihat cantik ditambah dengan senyumnya yang sangat ramah. Aku iri.
ketika aku sampai di kamarku, aku buka jilbabku
"ah, rambutku juga panjang" ucapku
"tapi, mengapa aku terlihat kusam dengan rambut ini?
aku berjalan ke arah cermin, mencoba memastikan bahwa aku dan rambutku ini cocok.
tapi gambar yang ditampilkan cermin itu berbeda. Di cermin itu aku begitu cantik, begitu anggun, begitu mempesona.
aku terlena dengan gambar yang ditanpilkan cermin itu, hingga dengan cepat aku pamerkan pada saudara - saudaraku.
tiba-tiba wanita yang satu minggu kita temui sedang duduk di sofa ruang tamu, bercerita dengan asyik dengan Ibu.
setiap kali melihat wanita itu selalu saja pesonanya mengalahkan semuanya. Hingga aku pun lupa bahwa aku sedang pamer.
tapi aku terlalu "ciut", aku kalah sebelum berperang. Wanita itu sangat sempurna.
saking terpesonanya aku dengan wanita itu, aku tidak sadat bahwa disamping sang wanita ada lelaki tampan yang tersenyum dengan gagahnya. Mereka begitu serasi, aku tak sadar, lelaki tampan yang duduk disamping wanita itu adalah kamu.
dan aku merasa kalah
hingga akhirnya wanita itu berbisik "lelaki yang disampingku menyukaimu, tapi tidak rambutmu" dan seketika itu aku tersadar bahwa aku tidak mengenakan jilbab.
dan aku merasa bodoh
kau masih ingat penampilab wanita itu?
nash sangat segar di ingatanku bagaimana si wanita itu mengikat rambutnya yang panjang dengab menggunakab ikat rambut warna kuning yang sudah lusuh.
rambutnya agak sedikit kusut, tapi aku sungguh sangat menyukai rambutnya. Wanita itu terlihat cantik ditambah dengan senyumnya yang sangat ramah. Aku iri.
ketika aku sampai di kamarku, aku buka jilbabku
"ah, rambutku juga panjang" ucapku
"tapi, mengapa aku terlihat kusam dengan rambut ini?
aku berjalan ke arah cermin, mencoba memastikan bahwa aku dan rambutku ini cocok.
tapi gambar yang ditampilkan cermin itu berbeda. Di cermin itu aku begitu cantik, begitu anggun, begitu mempesona.
aku terlena dengan gambar yang ditanpilkan cermin itu, hingga dengan cepat aku pamerkan pada saudara - saudaraku.
tiba-tiba wanita yang satu minggu kita temui sedang duduk di sofa ruang tamu, bercerita dengan asyik dengan Ibu.
setiap kali melihat wanita itu selalu saja pesonanya mengalahkan semuanya. Hingga aku pun lupa bahwa aku sedang pamer.
tapi aku terlalu "ciut", aku kalah sebelum berperang. Wanita itu sangat sempurna.
saking terpesonanya aku dengan wanita itu, aku tidak sadat bahwa disamping sang wanita ada lelaki tampan yang tersenyum dengan gagahnya. Mereka begitu serasi, aku tak sadar, lelaki tampan yang duduk disamping wanita itu adalah kamu.
dan aku merasa kalah
hingga akhirnya wanita itu berbisik "lelaki yang disampingku menyukaimu, tapi tidak rambutmu" dan seketika itu aku tersadar bahwa aku tidak mengenakan jilbab.
dan aku merasa bodoh
Langganan:
Komentar (Atom)
Rabu, 02 Oktober 2013
Tuhan!
Tuhan,
yang aku lakukan hanyalah beediam
tapi mengapa airmata ini jatuh sekenanya
inikah yang namanya kalah?
inikah rasanya kalah?
yang aku lakukan hanyalah beediam
tapi mengapa airmata ini jatuh sekenanya
inikah yang namanya kalah?
inikah rasanya kalah?
Ikhlas
Tuhan,
sampai sekarang aku mencoba ikhlas
ikhlas dengab apa yang aku punya
ikhlas dengan apa yang kau berikan
tak ada yang lebih sulit dibandingkan dengan ikhlas ini
seperti halnya sekarang,
seharusnya aku sudah ikhlas
ketika aku berseru bahwa aku ikhlas
dan ternyata sekarang,
nafsuku lebih menguasai hati dan fikiranku
menangis, itulah yang selalu aku lakukan
menangisi ketidakmampuanku
menangisi keegoisanku
menangisi kesok-anku
meski kadang aku menertawakannya
Tuhan,
ampuni aku, ampuni kelancangan lidahku
ampuni kemunafikan egoku
tetapi aku sungguh sungguh merindukannya, menginfinkannya, memilikinya.
jangan biarkan sesuatu itu menggoyahkan ikhlasku.
atau, berilah aku penyangga agar ikhlasku tidak goyah.
maaf Tuhan,
dan sampai derik ini pun ternyata ikhlasku mash sangatlah tak terlihat.
karena Kau tak perlu diminta,
hanya aku yang serakah.
sampai sekarang aku mencoba ikhlas
ikhlas dengab apa yang aku punya
ikhlas dengan apa yang kau berikan
tak ada yang lebih sulit dibandingkan dengan ikhlas ini
seperti halnya sekarang,
seharusnya aku sudah ikhlas
ketika aku berseru bahwa aku ikhlas
dan ternyata sekarang,
nafsuku lebih menguasai hati dan fikiranku
menangis, itulah yang selalu aku lakukan
menangisi ketidakmampuanku
menangisi keegoisanku
menangisi kesok-anku
meski kadang aku menertawakannya
Tuhan,
ampuni aku, ampuni kelancangan lidahku
ampuni kemunafikan egoku
tetapi aku sungguh sungguh merindukannya, menginfinkannya, memilikinya.
jangan biarkan sesuatu itu menggoyahkan ikhlasku.
atau, berilah aku penyangga agar ikhlasku tidak goyah.
maaf Tuhan,
dan sampai derik ini pun ternyata ikhlasku mash sangatlah tak terlihat.
karena Kau tak perlu diminta,
hanya aku yang serakah.
Selasa, 01 Oktober 2013
Wanita Berambut Panjang
vkau tahu, rambutku sekarang panjang. Panjangnya sepinggang, sama seperti rambut wanita yang kita lihat satu minggu yang lalu..
kau masih ingat penampilab wanita itu?
nash sangat segar di ingatanku bagaimana si wanita itu mengikat rambutnya yang panjang dengab menggunakab ikat rambut warna kuning yang sudah lusuh.
rambutnya agak sedikit kusut, tapi aku sungguh sangat menyukai rambutnya. Wanita itu terlihat cantik ditambah dengan senyumnya yang sangat ramah. Aku iri.
ketika aku sampai di kamarku, aku buka jilbabku
"ah, rambutku juga panjang" ucapku
"tapi, mengapa aku terlihat kusam dengan rambut ini?
aku berjalan ke arah cermin, mencoba memastikan bahwa aku dan rambutku ini cocok.
tapi gambar yang ditampilkan cermin itu berbeda. Di cermin itu aku begitu cantik, begitu anggun, begitu mempesona.
aku terlena dengan gambar yang ditanpilkan cermin itu, hingga dengan cepat aku pamerkan pada saudara - saudaraku.
tiba-tiba wanita yang satu minggu kita temui sedang duduk di sofa ruang tamu, bercerita dengan asyik dengan Ibu.
setiap kali melihat wanita itu selalu saja pesonanya mengalahkan semuanya. Hingga aku pun lupa bahwa aku sedang pamer.
tapi aku terlalu "ciut", aku kalah sebelum berperang. Wanita itu sangat sempurna.
saking terpesonanya aku dengan wanita itu, aku tidak sadat bahwa disamping sang wanita ada lelaki tampan yang tersenyum dengan gagahnya. Mereka begitu serasi, aku tak sadar, lelaki tampan yang duduk disamping wanita itu adalah kamu.
dan aku merasa kalah
hingga akhirnya wanita itu berbisik "lelaki yang disampingku menyukaimu, tapi tidak rambutmu" dan seketika itu aku tersadar bahwa aku tidak mengenakan jilbab.
dan aku merasa bodoh
kau masih ingat penampilab wanita itu?
nash sangat segar di ingatanku bagaimana si wanita itu mengikat rambutnya yang panjang dengab menggunakab ikat rambut warna kuning yang sudah lusuh.
rambutnya agak sedikit kusut, tapi aku sungguh sangat menyukai rambutnya. Wanita itu terlihat cantik ditambah dengan senyumnya yang sangat ramah. Aku iri.
ketika aku sampai di kamarku, aku buka jilbabku
"ah, rambutku juga panjang" ucapku
"tapi, mengapa aku terlihat kusam dengan rambut ini?
aku berjalan ke arah cermin, mencoba memastikan bahwa aku dan rambutku ini cocok.
tapi gambar yang ditampilkan cermin itu berbeda. Di cermin itu aku begitu cantik, begitu anggun, begitu mempesona.
aku terlena dengan gambar yang ditanpilkan cermin itu, hingga dengan cepat aku pamerkan pada saudara - saudaraku.
tiba-tiba wanita yang satu minggu kita temui sedang duduk di sofa ruang tamu, bercerita dengan asyik dengan Ibu.
setiap kali melihat wanita itu selalu saja pesonanya mengalahkan semuanya. Hingga aku pun lupa bahwa aku sedang pamer.
tapi aku terlalu "ciut", aku kalah sebelum berperang. Wanita itu sangat sempurna.
saking terpesonanya aku dengan wanita itu, aku tidak sadat bahwa disamping sang wanita ada lelaki tampan yang tersenyum dengan gagahnya. Mereka begitu serasi, aku tak sadar, lelaki tampan yang duduk disamping wanita itu adalah kamu.
dan aku merasa kalah
hingga akhirnya wanita itu berbisik "lelaki yang disampingku menyukaimu, tapi tidak rambutmu" dan seketika itu aku tersadar bahwa aku tidak mengenakan jilbab.
dan aku merasa bodoh
Langganan:
Komentar (Atom)
Diposting oleh


