0

Burung, Cicak, Semut

beberapa hari ini banyak burung datang mendekat,
aku pun heran tak ada rempahan disini, ataupun sesuatu yang mereka bisa makan

aku hanya bisa memperhatikan burung - burung itu..
mereka menyanyi...
suara mereka sangat merdu, tapi sayang lagu yang kudengar ternyata bukanlah kabar baik

terlalu banyak ancaman,
                    tangisan
                    umpatan
                    celaan
                    penghianatan
           dan    penyesalan

kau tak akan pernah mengiranya..
bahkan burung -burung itu menari dengan begitu indahnya,
mereka kepakkan sayap-sayap indahnya mengikuti irama lagu dan mengikuti setiap emosi yang ada
ya, aku baru mengerti ini 
tariannya adalah emosinya

sama ketika itu ada dua burung yang sedang menari
namun kemudian, sayap salah satu burung itu terluka
sayapnya tertusuk paruh burung lain hingga berdarah dan menmbusnya

mengerikan...

bagaimaa bisa sayap burung itu dilukai
oleh paruh burung alin yang sedang menari
menarikan lagu yang sama...

cicak yang melihat  berkata
"hei kau! tega sekali kau melukai temanmu. kalian sama -sama menari dengan lagu yang sama, bagaimana bisa kau menyakitinya?"

semut menimpali
" tidak, dia tidak bermaksud. cobalah tidak hanya melihat dari jauh. mereka menarikan lagu yang sama dengan gerakan yang sama tapi berbeda arah."

Cicak tidak terima
"ah, tahu apa kau Semut, kau kecil."

ya demikian, cicak dan semut saling beradu, hingga menghentikan tarian dan nyanyian sang burung.

Bagaimana dengan burung itu?
tak ada yang tahu,

burung yang terluka menagis kesakitan, bercerita bahwa dirinya terluka karena burung itu.
dan yang lain melihat siburung lain sebagai tersangka yang patut dibenci dan dijauhi

sedangkan burung lain sibuk dengan alasan dan konfirmasi
beribu alasan dia utarakan, untuk membersihkan namanya, unutk membuatnya terlihat tidak bersalah dan sebagai perlindungan terhadap hargadirinya.

sementara itu Cicak dan semut masih beradu,
beradu argumen,
beradu prasangka,

dan aku hanya sebagai penonton,
menikmati semua yang terjadi
ah hidup ini memang saling beradu

Burung-burung itu,
Cicak,
Semut,

tak ada yang mengerti.
0

Untuk Ferdi


Kemarin sepertinya aku melihatmu, terduduk di kursi dengan meja bundar dan ada payung yang melindunginya dari panasnya matahari.
Masih memikirkan itukah?

Sudahlah Ferdi….

Semua sudah terjadi…kau begitu jelas..ya bahkan sangat jelas.
Mengapa malu untuk mengakuinya?
Mengapa malu dia tahu yang sebenarnya?
Mengapa malu pada diri sendiri?

Tak ada yang salah…

Dia pun demikian, dia tahu semuanya
Dia tahu kamu
Dia tahu yang sebenarnya
Bukankah terasa lebih nyaman ketika dia tahu yang sebenarnya??
Bukankah terasa lebih lega ketika dapat mengungkapkannya?

Ah! Kau memang bukan aku yang dengan begitu saja membiarkannya tahu, membuatnya berlari dan terbang dengan bebas.
Tak ada rasa sesal bagiku membiarkannya tahu,
Malu pun mungkin sudah hilang..
Aku senang dia tahu, setidaknya dia tahu…
Ah! Terlalu seriuskah aku?! mungkin karena aku suda berumur duapuluhan

Ferdi,
Janganlah terus kau memikirkan itu, janganlah terus kau bermuram karena malu.
Tertawalah lagi,

Kau tahu, karena tawamulah aku menyukaimu


Sabtu, 26 Januari 2013

Burung, Cicak, Semut

Diposting oleh eNa di 23.44 0 komentar
beberapa hari ini banyak burung datang mendekat,
aku pun heran tak ada rempahan disini, ataupun sesuatu yang mereka bisa makan

aku hanya bisa memperhatikan burung - burung itu..
mereka menyanyi...
suara mereka sangat merdu, tapi sayang lagu yang kudengar ternyata bukanlah kabar baik

terlalu banyak ancaman,
                    tangisan
                    umpatan
                    celaan
                    penghianatan
           dan    penyesalan

kau tak akan pernah mengiranya..
bahkan burung -burung itu menari dengan begitu indahnya,
mereka kepakkan sayap-sayap indahnya mengikuti irama lagu dan mengikuti setiap emosi yang ada
ya, aku baru mengerti ini 
tariannya adalah emosinya

sama ketika itu ada dua burung yang sedang menari
namun kemudian, sayap salah satu burung itu terluka
sayapnya tertusuk paruh burung lain hingga berdarah dan menmbusnya

mengerikan...

bagaimaa bisa sayap burung itu dilukai
oleh paruh burung alin yang sedang menari
menarikan lagu yang sama...

cicak yang melihat  berkata
"hei kau! tega sekali kau melukai temanmu. kalian sama -sama menari dengan lagu yang sama, bagaimana bisa kau menyakitinya?"

semut menimpali
" tidak, dia tidak bermaksud. cobalah tidak hanya melihat dari jauh. mereka menarikan lagu yang sama dengan gerakan yang sama tapi berbeda arah."

Cicak tidak terima
"ah, tahu apa kau Semut, kau kecil."

ya demikian, cicak dan semut saling beradu, hingga menghentikan tarian dan nyanyian sang burung.

Bagaimana dengan burung itu?
tak ada yang tahu,

burung yang terluka menagis kesakitan, bercerita bahwa dirinya terluka karena burung itu.
dan yang lain melihat siburung lain sebagai tersangka yang patut dibenci dan dijauhi

sedangkan burung lain sibuk dengan alasan dan konfirmasi
beribu alasan dia utarakan, untuk membersihkan namanya, unutk membuatnya terlihat tidak bersalah dan sebagai perlindungan terhadap hargadirinya.

sementara itu Cicak dan semut masih beradu,
beradu argumen,
beradu prasangka,

dan aku hanya sebagai penonton,
menikmati semua yang terjadi
ah hidup ini memang saling beradu

Burung-burung itu,
Cicak,
Semut,

tak ada yang mengerti.

Senin, 14 Januari 2013

Untuk Ferdi

Diposting oleh eNa di 16.11 0 komentar

Kemarin sepertinya aku melihatmu, terduduk di kursi dengan meja bundar dan ada payung yang melindunginya dari panasnya matahari.
Masih memikirkan itukah?

Sudahlah Ferdi….

Semua sudah terjadi…kau begitu jelas..ya bahkan sangat jelas.
Mengapa malu untuk mengakuinya?
Mengapa malu dia tahu yang sebenarnya?
Mengapa malu pada diri sendiri?

Tak ada yang salah…

Dia pun demikian, dia tahu semuanya
Dia tahu kamu
Dia tahu yang sebenarnya
Bukankah terasa lebih nyaman ketika dia tahu yang sebenarnya??
Bukankah terasa lebih lega ketika dapat mengungkapkannya?

Ah! Kau memang bukan aku yang dengan begitu saja membiarkannya tahu, membuatnya berlari dan terbang dengan bebas.
Tak ada rasa sesal bagiku membiarkannya tahu,
Malu pun mungkin sudah hilang..
Aku senang dia tahu, setidaknya dia tahu…
Ah! Terlalu seriuskah aku?! mungkin karena aku suda berumur duapuluhan

Ferdi,
Janganlah terus kau memikirkan itu, janganlah terus kau bermuram karena malu.
Tertawalah lagi,

Kau tahu, karena tawamulah aku menyukaimu


Back to Top