Hai!
Apa
kabarmu?
Kau
tahu aku sangat menyesal, aku terlalu bodoh saat itu. Seharusnya aku bisa mengendalikan fikiranku.
Tetapi, apalah guna aku menyesalinya sekarang. Kau tak
akan pernah kembali.
Dirimu hanyalah saat itu dan aku menyianyiakannya.
Tetapi,
aku tak sepenuhnya menyesal.
Karena dengan itu aku mengetahui kau begitu
menyukai ku.
Saat
itu aku begitu gembira. Disetiap pesanmu, disetiap puisi yang kau salin untukku
aku benar- bear terbuai. Aku ingin terus merasakannya, hingga aku mengabaikan
perasaanmu.
Dan
ketika kau pergi,
Aku
semakin merasa terpukul, kau pergi karena kesalahpahaman yang kubuat.
Ketika
itu kau terus meminta maaf, tapi aku tak pernah membalasnya.
Dan
ketika kau benar-benar pergi aku tersadar, aku selalu mencacimu, aku selalu
mengis karenamu.
Namun,
ketika aku terpuruk aku hanya tersadar bahwa bukan salahmu kau pergi, itu
salahku yang lebih dulu menyakitimu. Dan aku semakin terpuruk, tangisanku
semakin menjadi bak air hujan yang mengikis perasannku dan membuatnya tak
karuan.
Kau
tahu aku sangat menyesal.
Aku
ingin sekali kau kembali, seperti dulu. Tetapi aku sadar itu tidaklah mungkin.
kau mungkin tahu apa yang aku lakukan terhadapmu ketika itu, sehingga kau
benar-benar pergi dengan segala sikap manis yang dulu selau kau beri.
Tapi
kau tahu betapa sakitnya aku setelah itu?
Melihatmu
dengan wanita lain. Wanita yang aku kenal, yang berbeda degan bidadari
impianmu.
Kau
berlaku kejam ketika itu. Setiap dari kita bertemu, kau selalu alihkan
pandanganmu dan bergeser menjauhkan tubuh jagkungmu dariku.
Tahukah kau itu
menyakituku terlalu dalam.
Aku
tahu kita tidak akan pernah menjadi seperti dulu.
Aku
juga tahu setiap aku mencoba untuk melupakanmu, penyesalan itu selau muncul
dengan begitu kuat tanpa bias kubendung.
Dan
ketika penyesalan itusemakin kuuat aku juga tahu kalau aku begitu menyukaimu,
aku begitu menggilaimu.
Diposting oleh



0 komentar:
Posting Komentar
Please write what do you think about it!