0

Maafkan, Rindu!

ketika lidah pandai berkelit dan mulut senantiasa berbohong, mungkin hanya mata yang masih memancarkan kebenaran, menjelaskan perasaan yang sedang dialami..

aku bertemu dengan seorang wanita di warung makan pinggir jalan..aku lupa apa yang dia pesan yang ku ingat adallah sorot matanya yang begitu.........pilu.
terasa begitu sedih, begitu berat dan begitu lelah.

ingin sekali aku bertanya padanya, mendengarkan ceritanya sampai dia merasa sedikit tenang. Namun, saat itu begitu tidak memungkinkan, kami berada ditengah keramaian.

dan suatu malam yang seharusnya menyenangkan matanya terlihat sperti itu lagi..

memberanikan diri aku meminta waktunya
mecoba memancingnya bercerita

ya...ketka malam memasuki dini hari dia menceritakannya
tapi sampai waktunya pagi tak kulihat sorot matanya berubah
masih sama seperti saat itu

aku bukan penasehat ulung yg dapat memberikan berbagai macam solusi
aku tidak bisa memberikannya. maaf jika kasar tetapi itu lah dia yang selalu memungkiri yang diyakininya...yang bisa kulakukan hanya mendengar semua keluh kesahnya. ya hanya mendengarkan sampai dia merasa cukup.
meskipun akhirnya aku tertidur.......

tidur dengan lelapnya

dalam mimpi hingga kuterbangun sorot matanya masih sama
hingga kemarin bertemu...

ah! aku merindukan sorot matanya yang dulu
sorot mata yang ceria,
sorot mata yang tanpa beban,
sorot mata anak kecil melihat maina barunya

sorot mata itu berganti menjadi pilu
menjadi kebohongan yang dia simpan dengan senyum, ditutupi dengan candaan dan diiringi dengan ketidakpercayadirian.

mungkin dia sekarang sedang marah padaku
dan juga pada dirinya sendiri

aku hanya merindukan sorot mata itu. maafkan aku hanya Rindu !




0 komentar:

Posting Komentar

Please write what do you think about it!

Kamis, 28 Februari 2013

Maafkan, Rindu!

Diposting oleh eNa di 19.50
ketika lidah pandai berkelit dan mulut senantiasa berbohong, mungkin hanya mata yang masih memancarkan kebenaran, menjelaskan perasaan yang sedang dialami..

aku bertemu dengan seorang wanita di warung makan pinggir jalan..aku lupa apa yang dia pesan yang ku ingat adallah sorot matanya yang begitu.........pilu.
terasa begitu sedih, begitu berat dan begitu lelah.

ingin sekali aku bertanya padanya, mendengarkan ceritanya sampai dia merasa sedikit tenang. Namun, saat itu begitu tidak memungkinkan, kami berada ditengah keramaian.

dan suatu malam yang seharusnya menyenangkan matanya terlihat sperti itu lagi..

memberanikan diri aku meminta waktunya
mecoba memancingnya bercerita

ya...ketka malam memasuki dini hari dia menceritakannya
tapi sampai waktunya pagi tak kulihat sorot matanya berubah
masih sama seperti saat itu

aku bukan penasehat ulung yg dapat memberikan berbagai macam solusi
aku tidak bisa memberikannya. maaf jika kasar tetapi itu lah dia yang selalu memungkiri yang diyakininya...yang bisa kulakukan hanya mendengar semua keluh kesahnya. ya hanya mendengarkan sampai dia merasa cukup.
meskipun akhirnya aku tertidur.......

tidur dengan lelapnya

dalam mimpi hingga kuterbangun sorot matanya masih sama
hingga kemarin bertemu...

ah! aku merindukan sorot matanya yang dulu
sorot mata yang ceria,
sorot mata yang tanpa beban,
sorot mata anak kecil melihat maina barunya

sorot mata itu berganti menjadi pilu
menjadi kebohongan yang dia simpan dengan senyum, ditutupi dengan candaan dan diiringi dengan ketidakpercayadirian.

mungkin dia sekarang sedang marah padaku
dan juga pada dirinya sendiri

aku hanya merindukan sorot mata itu. maafkan aku hanya Rindu !




0 komentar on "Maafkan, Rindu!"

Posting Komentar

Please write what do you think about it!

Back to Top