0

Selamat Pagi!

Selamat Pagi!
Kicauan burung itu membangunkan seisi rumah, tetapi hanya satu orang yang bergegas bangun. Ia bergegas menyapu halaman, merendam pakaian dan membersihkan dapur yang telah lama tak ia sentuh. tak biasa ia begitu lemas, begitu tak bertenaga bahkan ketika ia memindahkan sampah yang telah ia sapu ia terjatuh dan sampah - sampah itu kembali berserakan. ada apa dengannya? ia lemas, ia harus bekerja lebih lagi, ia tak bertenaga tapi ia tetap bekerja.

Entah berap lama ia selesai menyapu, entah 2 jam atau bahkan sampai adzan Dzuhur bergema. kasihan memang, tetapi ia tak ingin dibantu, ia ingin berdiri sendiri, ia ingin menyelesaikan pekerjaannya meski dengan tenaga seadanya dan tubuh yang semakin rapuh, kulit mulusnya tercoreng goresan - goresan luka jatuhnya, ia tetap ingin menyelesaikanny sendiri. lagi pula siapa yang ingin membantu, penghuni lainnya masih hidup di alam mimpi, masih bergulat dengna cerita di mimpi mereka, hanya ada dia di nyata.

Tak ada yang melihat bagaimana ia bersusah payah bangun dari jatuhnnya dan kemudian membersihkan dan jatuh lagi, hanya burung itu yng melihat. tapi apa yang bisa burung itu lakukan? bernyanyi sekencang mungkin sampai penghni lain bangun dan membantunya? itu tak akan berhasil karena si burung itu pun tak ingin bernyanyi. 

Begitu kuat ia menjalani itu, dengan tenaga yang begitu lemah dan terbatas tak seorang pun pernah mendengar ia protes, tak seorang pun melihat ia menangis. tapi, siapa yang mau mendengar protesnya?siapa yang mau melihat ia menangis? tak seorangpun yang ada, tak seorangpun yang bangun, tak seorang pun yang sama, semuanya hidup padaa dunianya sendiri, semuanya hidup dengan fikiran dan jalurnya sendiri. tak ada yang protes, tak ada yang menangis, ia dan mereka menjalani hidup sesuai dengan hidupnya, jalur yang telah mereka tempuh, masing-masing hidup dengan jalurnya, tanpa hidup dengan jalur orang lain bahkan untuk menumpangpun tidak.

Jadi? haruskah kita membiarkan ia bekerja seperti itu?dengan tenaga seadanya dan terus jatuh bangun membereskan sampah yang tak pernah beres. bukankah dia merendam pakaian? bukanakh dia harus mencuci pakaiannya itu? masihkah kita membiarkan ia melakukan semuanya itu sendiri dengan sisa tenaga yang entah bersisa? sampai kapan pekerjaannya itu akan selesai? bagaimana ia bisa mencuci pakaian jika  menyapu saja sudah jatuh bangun. sanggupkah kulitnya yang bertato goresan luka itu menahan perhinya detergen yang dipaki merendam baju itu? tak ada yang tahu getergen apa yag ia gunakan tadi, bahkan ia  sendiri pun lupa. kuatkah detergen itu? bagaimana dengan kulitnya? akankah semakin terluka? sampai kapan dia seperti ini.,tak akan selesai, mau sampai kapan?Hanya Tuhan yang tahu tentagnya dan nasib dapur yang tak terjamah itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Please write what do you think about it!

Rabu, 10 Oktober 2012

Selamat Pagi!

Diposting oleh eNa di 10.06
Selamat Pagi!
Kicauan burung itu membangunkan seisi rumah, tetapi hanya satu orang yang bergegas bangun. Ia bergegas menyapu halaman, merendam pakaian dan membersihkan dapur yang telah lama tak ia sentuh. tak biasa ia begitu lemas, begitu tak bertenaga bahkan ketika ia memindahkan sampah yang telah ia sapu ia terjatuh dan sampah - sampah itu kembali berserakan. ada apa dengannya? ia lemas, ia harus bekerja lebih lagi, ia tak bertenaga tapi ia tetap bekerja.

Entah berap lama ia selesai menyapu, entah 2 jam atau bahkan sampai adzan Dzuhur bergema. kasihan memang, tetapi ia tak ingin dibantu, ia ingin berdiri sendiri, ia ingin menyelesaikan pekerjaannya meski dengan tenaga seadanya dan tubuh yang semakin rapuh, kulit mulusnya tercoreng goresan - goresan luka jatuhnya, ia tetap ingin menyelesaikanny sendiri. lagi pula siapa yang ingin membantu, penghuni lainnya masih hidup di alam mimpi, masih bergulat dengna cerita di mimpi mereka, hanya ada dia di nyata.

Tak ada yang melihat bagaimana ia bersusah payah bangun dari jatuhnnya dan kemudian membersihkan dan jatuh lagi, hanya burung itu yng melihat. tapi apa yang bisa burung itu lakukan? bernyanyi sekencang mungkin sampai penghni lain bangun dan membantunya? itu tak akan berhasil karena si burung itu pun tak ingin bernyanyi. 

Begitu kuat ia menjalani itu, dengan tenaga yang begitu lemah dan terbatas tak seorang pun pernah mendengar ia protes, tak seorang pun melihat ia menangis. tapi, siapa yang mau mendengar protesnya?siapa yang mau melihat ia menangis? tak seorangpun yang ada, tak seorangpun yang bangun, tak seorang pun yang sama, semuanya hidup padaa dunianya sendiri, semuanya hidup dengan fikiran dan jalurnya sendiri. tak ada yang protes, tak ada yang menangis, ia dan mereka menjalani hidup sesuai dengan hidupnya, jalur yang telah mereka tempuh, masing-masing hidup dengan jalurnya, tanpa hidup dengan jalur orang lain bahkan untuk menumpangpun tidak.

Jadi? haruskah kita membiarkan ia bekerja seperti itu?dengan tenaga seadanya dan terus jatuh bangun membereskan sampah yang tak pernah beres. bukankah dia merendam pakaian? bukanakh dia harus mencuci pakaiannya itu? masihkah kita membiarkan ia melakukan semuanya itu sendiri dengan sisa tenaga yang entah bersisa? sampai kapan pekerjaannya itu akan selesai? bagaimana ia bisa mencuci pakaian jika  menyapu saja sudah jatuh bangun. sanggupkah kulitnya yang bertato goresan luka itu menahan perhinya detergen yang dipaki merendam baju itu? tak ada yang tahu getergen apa yag ia gunakan tadi, bahkan ia  sendiri pun lupa. kuatkah detergen itu? bagaimana dengan kulitnya? akankah semakin terluka? sampai kapan dia seperti ini.,tak akan selesai, mau sampai kapan?Hanya Tuhan yang tahu tentagnya dan nasib dapur yang tak terjamah itu.

0 komentar on "Selamat Pagi!"

Posting Komentar

Please write what do you think about it!

Back to Top